Jumat, 17-04-2026
  • SMAN 2 Kupang Tengah, Sekolah yang membentuk murid berkarakter Pancasila.

Tentang Saya

Diterbitkan : - Kategori : Cerita Pendek

Hai… Perkenalkan, saya Marny. Lengkapnya Marny Sabaat, kelahiran bulan Agustus. Jangan bertanya kenapa tidak disebutkan tahun lahir saja? Sitttt! Bukan apa-apa, tapi akan terdengar sudah tua., hehehehehe. Ohiya, pasti kalian juga akan bertanya kenapa lahir di bulan Agustus tapi namanya Marny? Kenapa bukan Agustina, Agnes, atau Anggun🤣🤣🤣 seperti orangnya🤭. Saya juga bingung, ingin bertanya kepada orangtua tapi sudah terlanjur nyaman dan melekat dengan nama Marny🥰

Saya anak ke-empat dari lima bersaudari. Kenapa bersaudari bukan bersaudara saja😂? Karena kami berlima semuanya perempuan. Kami tidak memiliki saudara laki-laki. Dan artinya menurut pandangan tetua di kampung, maka dengan sendirinya marga Bapak saya akan hilang karena tidak ada yang akan meneruskan Marganya. Sebenarnya disini saya sedikit marah sekaligus sedih mendengar pernyataan tersebut.

Bapak saya seorang petani, biasanya bekerja di kebun dan di sawah. Jangan berfikir kami anak manja, kalian keliru! Hidup dan dibesarkan oleh seorang petani berpotensi ABRI hahahhahhaha kami dididik untuk menjadi perempuan pekerja dan tidak manja.  Jika dia berada di kebun maka harus ada beberapa anaknya yang ikut ke kebun, dan jika dia berada di sawah maka hal demikian pun terjadi, sedangkan anaknya yang lain tetap tinggal di Rumah untuk mengurus Rumah seperti menimbah air dari sungai, menyiapkan makanan, membersihkan Rumah dan lain-lain. Maka jangan heran kalau kami bisa bekerja selayaknya sebagai seorang laki-laki 😂😂😂 jangan heran jika bertemu dengan kami berlima pandangan kalian akan mengarah pada bagian otot kami, kami perempuan berotot 💪💪💪🤭

Meskipun kami selalu dilibatkan dalam semua pekerjaan, tapi Bapak saya selalu mengutamakan Pendidikan kami.  Dalam pikirannya kami harus membuat dia bangga, harus bisa menjadi orang yang lebih baik dari dirinya.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya tahun 2009  saya lulus dari SMA Negeri 4 Kupang, waktu itu saya ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dan saya sangat tertarik dengan Ilmu Hukum, hanya saja Bapak tidak ingin saya mengambil jurusan tersebut, katanya itu percuma. Saya ingat betul kalimat yang dia lontarkan saat itu dengan menggunakan bahasa Timor Dawan ” Kal mus kol Guru, au uskol ko, mes kal hom muskol le a’teta, maimkum lait hem muskol kum” Yang artinya, dia akan membiayai pendidikan saya asalkan saya mengambil jurusan yang nantinya menjadi Guru, tapi kalau selain itu saya di suruh untuk mencari uang sendiri untuk membiayai pendidikan saya😁🤭karena tidak punya pilihan ya sudah, ikut apa kata beliau saja

Akhirnya saya mendaftarkan diri di perguruan tinggi Universitas PGRI NTT, kalau tidak salah saat ini sudah di ganti dengan sebutan Universitas UPG45. Singkat cerita, saya sudah mulai perkuliahan sebagai mana seoarang mahasiswi baru. Semestet 1,2 terlewati dengan baik, saat memasuki semester 3 Bapak mulai jatuh sakit. Mama dan kami anak-anak sangat ketakutan waktu itu, akhirnya kami bersepakat untuk membawa Bapak ke Rumah Sakit untuk diperiksa secara lengkap. saat diperiksa dan dilakukan tidakan observasi dan lain sebagainya dan hasilnya Dokter menyampaikan bahwa Bapak mengalami penyempitan tenggorokan. Dimana saluran pencernaan tidak dapat berfungsi dengan baik. Mama memutuskan agar Bapak dirawat inap saja sehingga dapat ditangani langsung oleh ahlinya (Dokter) saat dirasa sudah agak membaik, Bapak sudah diperbolehkan untuk pulang ke Rumah. Sesampainya di Rumah kami semua merawat Bapak dengan baik. Namun, sakit yang diderita oleh Bapak sangatbmembuat kami semua sedih. Karena penyempitan tenggorokan beliau tidak bisa menelan makanan dan minuman. Mama dan kakak perempuan pertama dan kedua berinisiatif untuk membuat bubur saring yang biasanya diberikan kepada anak bayi, tapi tetap saja beliau tidak bisa menelannya, jika dipaksa Bapak seperti tercekik dan sampai menangis. Hati kami semua sakit melihat penderitaan Bapak. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke Rumah Sakit, dan seterusnya seperti itu, Bapak pasien umum. Semuanya serba dibayar, tapi Mama tidak peduli apapun itu, Bapak harus sembuh.

Empat bulan lamanya kami menghabiskan waktu untuk pergi dan pulang Rumah Sakit. Bapak tidak menyusahkan kami karena beliau bisa beraktifitas sendiri seperti ke kamar mandi sendiri makan dan minum tidak disuapin, jalan pun tidak dituntun. Hanya saja yang membuat Bapak menderita dan kesakitan itu saat mau menelan makanan dan minuman, apalagi obat-obatan berupa pil atau tablet. Jadi selama di Rumah sakit beliau hanya menerima asupan lewat infus saja.

Dan akhirnya, Tuhan punya rencana yang lebih indah dari rencana Mama dan kami. Tepatnya tanggal 28 Januari 2011, merupakan hari bersejarah dalam hidup kami, seolah sudah waktunya untuk dijemput oleh malaikat maut, beliau memanggil saya dengan tangisan untuk memeluknya erat, saya pun bergegas untuk memeluknya, saat saya memeluk Bapak yang saat itu penuh dengan ketakutan dia meminta saya untuk memeluknya lebih erat, semua yang ada di dalam Ruangan itu menagis sejadi-jadinya, dokter datang dan memeriksa denyut jantung beliau, tak lama kemudian dokter memanggil kakak perempuan saya untuk ikut keruangan dokter, mereka berjalan beriringan, setelah itu  mereka kembali bersama ke ruangan dimana Bapak dirawat. Dokter kembali memeriksa kondisi Bapak, waktu itu Bapak masih dalam kondisi sadar, meskipun nafas beliau sudah tidak stabil. Bapak masih dalam pelukan saya, pada akhirnya tepat pukul 11:45 wita  beliau berpulang. Dokterpun  memberi pengumuman, seoalah disambar petir di siang bolong. Semua menagis histeris.  Dokterpun ikut meneteskan air mata dan memeluk Mama. Berita duka ini sampai juga di kampung Matani, ya Matani kampung di mana nama Bapak dikenal dengan harumnya. Selang beberapa waktu semua orang kampung sudah memenuhi Rumah Sakit, para tetua adat, orang muda dan anak-anak datang menjemput dan ikut merasakan kehilangan yang mendalam. Waktu itu pihak Rumah Sakit juga kaget karena banyak warga yang datang untuk melihat dan menjemput Almarhum Bapak Yakob Sabaat I. Ya, itu nama beliau, nama yang akan harum sepanjang masa lewat cerita kami dan mereka yang mengenalnya. Proses demi proses akhirnya pemakaman selesai.

Hidup harus terus berjalan, kehilangan sosok seorang Bapak adalah patah hati terbesar seoarang anak perempuan. Dan saya mengalaminya😊

Kehilangan Ayah, berarti kehilangan kehormatan. Ya, pepatah tua yang masih terdengar menyedihkan sampai saat ini. Banyak drama yang kami lalui. Drama keluarga besar. Katanya anak perempuan tidak memiliki hak untuk apapun itu. Jadi yang menjadi milik Bapak semasa hidup semuanya hilang, cacian, makian dan hinaan, bahkan kami seperti orang asing dalam keluarga besar Almarhum… Lucu kan hehehhehe dramanya keren sampai-sanpai skenario Tuhan mengantarkan kami pada pembelajaran hidup yang sesungguhnya. Ahhhh, apapun itu kami telah melewati badai itu, thanks God 😇

Ahirnya proses mengantarkan saya pada akhir pendidikan, tepatnya tahun 2013 saya wisuda. Setelah itu saya tidak tinggal diam, mulai menulis lamaran pekerjaan untuk dimasukkan ke sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Kupang, yang paling jauh itu di wilayah Amfoang. Tapi Tuhan memiliki cerita tersendiri untuk saya, tepat tanggal 30 Oktober 2013 saya mendapat informasi dari saudara bahwa di SMA NEGERI 2 KUPANG TENGAH sedang membutuhkan Guru Bahasa Indonesia. Dengan semangat dan gerakan secepatnya kilat langsung menuju ke sekolah tersebut, dan waktu itu saya diterima langsung oleh pimpinan/Kepala Sekolah. Puji Tuhan saya diterima dan masih ingat betul dengan kalimat Mama Nanci, sapaan kami untuk beliau ” Nona, kami disini Rombel (Rombongan Belajar) masih sangat kecil. Mohon maaf nona, disini kita tidak sebut gaji tapi transport untuk nona Rp. 150.000/bulan, kalau nona mau bulan depan tanggal 1 sudah bisa mengajar” Waktu itu tidak pikir gaji atau apalah itu, yang ada dalam pikirannya, dapat tempat untuk mengabdi dan terus menerapkan ilmu yang didapat saat di bangku Perguruan tinggi.

Tanggal 1 November 2013, saya mulai menjalankan tugas sebagai seorang guru honorer, selang beberapa bulan  Mama Nonci, mengharuskan saya untuk menggunakan pakaian seragam PDH. Disini saya bingung, dari mana saya mendapatkan pakaian yang dimaksud? Uang tidak punya😁. Selang beberapa hari, seorang teman guru, namanya Ibu Sian Leda. Memanggil saya dan berkata ” Ibu Marny, beta punya seragam ada 1 pasang yang sudah sesak di beta. Tapi maaf ini bekas, kalau ibu Marny mau na besok beta bawa e” Tidak tunggu waktu lama, langsung saya jawab ” Bole kaka, beta mau”

Dan akhirnya pakaian seragam pertama yang saya kenalan itu dari Ibu Sian dan yang kedua itu dari Ibu Nita. Wah, ternyata Tuhan mengirimkan orang-orang baik dalam hidup saya. Ahhh… Terima kasih untuk kalian🥰

Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan di sini. Bekerja di lingkungan  yang positif dan saling mendukung satu dengan yang lain, memiliki atasan yang selalu memiliki pandangan kedepan terkait dengan kualitas diri setiap gurunya.

Sangat bersyukur sekali dengan setiap proses hidup yang sudah dilewati. Entah apa rencana Tuhan selanjutnya untuk saya, yang pasti semua akan dijalanin.

 

 

 

 

 

3 Komentar

Sian Leda
Senin, 7 Agu 2023

Luar biasa kisahnya. Salut dgn semua perjuangan hidup. Tuhan pasti menuntun sampai sukses. Salam sehat, jgn lupa bahagia 👍🥰🙏

Balas
    Marny Sabaat
    Minggu, 13 Agu 2023

    Aminnnn Paling serius Kaka Ibu…

    Balas
Merry O. B. Koeslulat, S.Sos
Minggu, 22 Okt 2023

Mantap Bestieku…

Balas

Beri Komentar

Balasan